Sumber asli: mommiesdaily.com

Pernikahan adalah perjalanan seumur hidup dengan tiket satu arah. Artinya arah perjalanan ini sepenuhnya ada di tangan kita – mau menikmati atau mau merana di dalamnya. – Ihsan Gani.

Berasa banget nggak sih, momen “jleb”nya saat membaca quote di atas? Definisi tentang pernikahan ini saya dapatkan dari Marriage & Relationships Pastors – Ihsan Gani dan Tinny Muljani. Mereka dipercaya untuk memfasilitasi Marriage Ministry dan mempersiapkan pasangan-pasangan muda yang akan memasuki jenjang pernikahan.

Perjalanan mereka sebagai Marriage Ministry dimulai di JPCC (Jakarta Praise Community Church) pada tahun 1999. Dari yang awalnya JPCC hanya memiliki ratusan jemaat, kini jumlah jemaat mereka menembus angka 10.000. Fokus mereka adalah melakukan pencegahan terjadinya konflik dalam sebuah lembaga pernikahan

Apa saja, yang mereka lakukan dalam Marriage Ministry tersebut? Bagaimana asal mulanya mereka menyandang predikat sebagai Marriage & Relationships Pastors? Mereka pun dengan gamblang membeberkan langkah-langkah untuk menyelamatkan pernikahan sedari awal¸seperti tujuan mereka – mencegah lebih baik daripada mengobati. Silahkan simak obrolan Mommies Daily dengan mereka berikut ini, yuk!

Bagaimana awal mulanya kalian  berkecimpung sebagai Marriage and Relationship Pastor?

Awalnya kami bergabung dengan JPCC dari tahun 2001, pada saat itu usia gereja JPCC baru tiga tahun. Setahun setelahnya, di 2002 kami sedang dalam persiapan pernikahan, dan kami mengambil kelas persiapan pernikahan. Pada saat itu pengajar kami meminta kami menjadi pengajar pandamping, karena pada saat itu gereja kami baru berkembang. Tapi seiring berjalannya waktu, jemaat kami semakin banyak. Kebetulan pada saat itu, pengajar yang dulu mengajar kami pindah ke gereja lain karena alasan tertentu. Akhirnya kami yang mengambil alih tanggung jawab mereka. Dan memang program persiapan pernikahan ini sudah berjalan – kami tinggal meneruskan.

Mulai 2006, kami mengambil alih kelas bimbingan pranikah. Setelah memegang kelas bimbingan pranikah ini, 2012 saya diminta menjadi pastor Marriage and Relationship. Kenapa Marriage and Relationship? karena ada dua area yang kami bantu persiapkan, satu adalah pasangan-pasangan yang akan menikah, dan yang kedua pasangan-pasangan yang sudah menikah yang membutuhkan “perawatan”, sama seperti halnya kendaraan.

Bagaimana bentuk konkret persiapan pernikahan?

Untuk para pasangan yang belum menikah. Pertama-tama para pasangan yang akan menikah kami bantu menemukan jawaban dari pertanyaan “Why?” terlebih dahulu, sebelum mantap menikah. Karena pernikahan itu adalah suatu perjalanan untuk sekali seumur hidup, jadi tentunya kalau kami bilang setiap pasangan memulai pernikahan dengan jatuh cinta, dan peristiwa jatuh cinta ini adalah momen yang indah dan luar biasa. Hanya saja persoalannya sekarang, seberapa nyata antara apa yang ada di pikiran mereka, dengan apa yang secara logika bisa dijabarkan.

Kami membagi kelas ini selama enam minggu, dalam enam minggu ini kami ajarkan mereka untuk  berkomunikasi. Karena survei mengatakan, 90% masalah dalam penikahan adalah soal komunikasi. Pada saat pasangan bisa berkomunikasi dengan baik, umumnya masalah bisa selesai. Komunikasi ini kami bagi lagi ke dalam 6 topik:

Minggu pertama adalah topik “Why”, kenapa kamu pilih dia? Dasarnya apa? Apa karena Cinta? Jika iya, cinta itu bukan hanya perasaan saja. Tapi cinta mencangkup keputusan dan langkah-langkah yang harus diambil. Keputusan-keputusan ini pernah dialami tidak dalam hubungan sebelum menikah?

Minggu kedua, membahas tentang perbedaan. Karena selama masa pendekatan, umumnya yang dicari hanya persamaannya saja. Padahal kalau menemukan satu saja perbedaan, bisa berpotensi menjadi konflik. Begitu konflik sudah muncul, tahu tidak sebetulnya apa yang menjadi perbedaannya? Karena umumnya masa pacaran maunya yang aman-aman saja, begitu menemukan perbedaan sudah tidak nyaman lagi, dan khawatir si pasangan sudah tidak mau lagi dengan kita. Kalau perbedaan sudah muncul, bisa nggak saling menerima perbedaan yang ada. Jangan sampai kalau sudah menikah, mempunyai misi mau mengubah pasangan. Poinnya yang bisa mengubah adalah Tuhan saja. Jangan sampai, suami mau mengubah istri dan sebaliknya – karena jika itu yang dilakukan akan merasa frustasi. Dan biasanya dalam enam minggu ini, mereka didampingi oleh pasangan yang sudah menikah, semacam mentor.

Minggu ketiga adalah soal perbedaan kepribadian, setiap kepribadian yang berbeda itu tidak ada yang buruk dan tidak ada yang baik. Semuanya baik, hanya saja memang berbeda. Kami menggunakan test psikologi yang bernama test DISC, sebuah alat yang digunakan untuk memahami tipe atau perilaku dan gaya kepribadian seseorang. Dan, pelajaran tambahannya, jika sudah mengetahui perbedaan kepribadian dari masing-masing pasangan – bisa mengolah konflik yang mungkin saja datang.

Minggu keempat adalah soal seks, sebetulnya seks ini adalah hadiah yang disiapkan untuk pasangan yang sudah menikah, kenapa? Karena ketika pasangan melakukan hubungan suami isteri, ada hormon-hormon yang menciptakan ikatan, kebahagiaan dan menimbulkan rasa sayang. Jika hal ini dilakukan dengan orang yang salah, apa yang bisa terjadi? Pengaruh secara psikisnya bisa lebih besar daripada pengaruh fisik.

Minggu kelima, belajar tentang kesetiaan, tahap ini penting sekali. Karena kalau hubungan tanpa ada kepercayaan, sulit untuk hubungan tersebut bertahan lama. Sedangkan untuk mendapatkan kepercayaan itu, ada benih yang harus kita tabur. Benih itu bernama kesetiaan.

Minggu keenam atau minggu terakhir, bicara tentang “peran”. Nanti kira-kira, kalau sudah menyandang predikat suami isteri akan jadi seperti apa? Karena kalau pasangan sering kali datang dengan gambaran keluarganya, misalnya mempunyai keinginan seperti ini: “Suami saya harus seperti Papa saya!”. “Isteri saya harus seperti Mama saya!”

Inilah masa enam minggu yang kami kemas dalam bimbingan pranikah untuk pasangan-pasangan yang akan menikah dan berikutnya mereka akan ambil program PMCC – Pre Married Conseling Class. Mengajarkan mereka tentang kehamilan, dan tata kelola uang. Penting juga sebenarnya dalam masa penjajakan terbuka soal keuangan, karena dari sini bisa saja timbul konflik jika tidak ada keterbukaan sedari awal. Dari sekian tahap tadi, kami harapkan mereka mengenal dengan baik calon pasangan hidupnya – jangan seperti membeli kucing dalam karung.

Berarti, ada kemungkinan untuk batal menikah?

Jadi dari awal kami sudah bilang, dalam enam minggu ke depan kami akan provokatif, untuk alasan yang baik. Pondasi yang kuat dan kokoh mau digoncang seperti apapun juga tidak akan terjadi apa-apa. Tapi kalau yang tidak kokoh, menjadi mulai bertanya – kalau di tengah jalan mereka sudah mulai ragu bahwa dirinya tidak cocok untuk pasangannya lebih dini, itu adalah hal yang bagus. Tapi kalau mereka sudah yakin, harusnya mereka tidak bermasalah.

Berikutnya yang sudah menikah, di JPCC memiliki komitmen mencegah lebih baik daripada mengobati. Kami coba sampaikan kepada setiap pasangan, lalukan perawatan pada saat hubungan masih dalam keadaan sehat dan baik. Diharapkan para pasangan yang dapat merawat hubungan dalam keadaan yang masih baik, tentu masalah dalam pernikahan bisa dihindari. Kami tidak mau mendapatkan JPCC, sebagai gereja yang bereaksi terhadap masalah-masalah pernikahan. Karena sebetulnya persoalan-persoalan dalam rumah tangga bisa diantisipasi.

Ada juga program Marriage Getaway  untuk para pasangan, yang ingin memelihara kualitas hubungan mereka.

Saya juga pernah mendengar tentang Marriage Getaway, bisa tolong dijelaskan mengenai hal tersebut?

Biasanya kami lakukan setahun sekali, di akhir tahun – kami biasanya ke Bali. Tujuannya supaya pasangan punya waktu berkualitas hanya berdua. Karena kalau sudah menikah, karena rutinitas harian, kadang sudah lupa dengan kualitas waktu berdua – misalnya meluangkan waktu untuk kencan atau sekadar pergi bersenang-senang.

Biasanya Marriage Getaway ini dilaksanakan dalam dua malam, ada sesi di mana kami menghadirkan pembicara dari luar negeri. Mereka tidak hanya mengajarkan tentang pernikahan, tapi juga mengingatkan ada hal-hal yang pasangan ini bisa lakukan hanya berdua, misalnya memberikan kejutan untuk isteri. Nama programnya secret mission – para suami diberikan tugas untuk mencarikan sesuatu yang bisa dijadikan kejutan kepada pasangan. Yang dilihat dari misi ini adalah perjuangan para suami. Selain itu mereka juga pernah kami minta untuk membawa foto pernikahan, dan di Marriage Gateway ini, mereka akan mengulang janji pernikahan mereka.

Selain mempunyai tujuan mencegah daripada mengobati, apa lagi misi dari Marriage Ministry ini?

Kalau kami tentu melihat Marriage Ministry ini sebagai “positif approach”, bahwa pernikahan ini adalah entitas terkecil di masyarakat. Pada saat suami dan isteri ini solid dan kuat dalam pernikahan, maka akan ada suatu keluarga yang kuat, kalau ada keluarga yang kuat maka akan ada masyarakat yang kuat, kalau ada masyarakat yang kuat akan ada suatu kota yang kuat,  ada kota yang kuat, akan menghasilkan negara yang kuat. Jadi, kita harus kembali ke entitas terkecil, bahwa pasutri ini memegang peranan penting, karena suatu hari akan memengaruhi anak-anaknya. Tujuan ini yang kami ingin raih.

Menurut kalian nilai-nilai apa saja dalam pernikahan yang harus dijaga?

Komitmen itu penting, contohnya analogi ayam dan telur , kenapa analoginya itu? untuk membuat sebuah telur itu bisa dinikmati, perlu si ayam ini berkorban, artinya ayam harus merelakan telurnya diambil. Tapi untuk ayam itu bisa dinikmati, sang ayam ini harus mengorbankan dirinya untuk dipotong terlebih dahulu. Bahwa pada saat pasangan berkomitmen masuk dalam jenjang pernikahan, yang harus terjadi adalah hidupku adalah bukan milikku sendiri lagi – tetapi juga milik dia. Komitmen itu bukan melihat baik dan buruknya kondisi atau menyenangkan atau tidak menyenangkannya pasangan, gagal atau berhasilnya pasangan, tapi di dalam kondisi apapun harus bisa menerima.

Percaya juga ada nilai yang harus dijaga, bahwa kepercayaan itu penting sekali. Kalau kepercayaan itu dilanggar, seringkali ada pasangan yang berhasil melewatinya – artinya sanggup untuk memahami dan memaafkan. Soal memaafkan, tidak ada seorang pun yang sempurna. Tapi kembali lagi, kami pikir jika pasangan paham dengan nilai-nilai di awal tadi, yaitu komitmen – maka nilai memaafkan ini seharusnya bisa dilakukan.

Kalian sering kali menghadapi pasangan yang mau menikah dan sudah menikah. Bagaimana kalian menghadapi pasang surut pernikahan?

Mbak Tinny: Setiap pernikahan pasti ada pasang surutnya ya, kami rasa itu hal yang wajar. Yang paling penting adalah self awarness, kita sadar kemampuan kita sampai di mana. Sering kali kalau tidak punya self awarness ini, kita akan memaksakan sesuatu yang kita tidak bisa. Misalnya, sedang berada di situasi yang tidak bisa menerima load tertentu, kalau kita sudah paham keadaan kita, maka kita akan  berani berkata “tidak”. Karena kami ingin pernikahan kami solid. Terkadang, saat sebagai pasutri mengambil tanggung jawab yang banyak di luar sana, memang ada perasaan bangga, tapi kami tidak pernah tahu apa yang kami akan korbankan nantinya.

Mas Gani: Kalau saya rasa pasang surut sudah pasti, selama 13 tahun pernikahan kami. Tapi saya pikir dalam hubungan pasutri ini penting untuk peka dan bisa menjadi diri sendiri, dan pasangan kita pun bisa menjadi dirinya sendiri. Jadilah dirimu apa adanya, dalam arti kata ada kalanya kita bisa melakukan kesalahan, dan terus terang kepada pasangan. Saya bisa menyampaikan apapun kesalahan saya kepada isteri saya, tanpa perlu takut nanti isteri saya tersinggung. Sering kali kita enggan berbicara kepada pasangan kita, tapi akhirnya komunikasi itu jadi tertutup, pada saat komunikasi tertutup, kita mulai masuk ke dalam pemikiran yang sifatnya asumsi. Padahal, sederhananya tinggal bertanya kepada pasangan, apa yang sebetulnya terjadi.

Ego juga penting untuk diperhatikan. Kalau berbicara mengenai suami dan isteri, ada rumus matematika yang luar biasa: 1+1 adalah 1, berarti dalam setiap keadaan kita harus paham – maksudnya tidak ada pihak yang kalah atau menang. Karena jika ini terjadi malah tujuan menjadi 2 tidak akan tercapai. Kalau prinsip ini ditaruh di alam sadar kita, wah…ini bisa jadi sesuatu yang keren banget! Jadi setiap kali kita mengenali ego sudah keluarg, kita harus tahu, ego ini arahnya mau kemana. Ingat saja tujuan pernikahan tadi 2 menjadi 1.

Apa kata mereka tentang seks dalam pernikahan?

Menurut kalian, seks dalam pernikahan sepenting apa?

Penting banget, rata-rata orang melakukan hubungan intim dalam setahun sebanyak 58 kali. Karena yang kami ajarkan, hubungan intim adalah hadiah dari Tuhan untuk merekatkan hubungan suami isteri. Kalau misalnya ini menjadi suatu hal yang diabaikan, bagaimana bonding ini bisa terjadi? Dan dibutuhkan juga pengertian dari kedua belah pihak, misalnya perempuan tidak seperti laki-laki yang asal sentuh atau melihat bisa bereaksi, tapi isteri juga harus bisa menjawab dengan bijak saat suami membutuhkan tapi keadaan belum memungkinkan karena sang isteri sudah terlalu lelah mengurus anak-anak, misalnya. Cari jalan tengah, cari waktu khusus – misalnya saat akhir pekan. Hal ini bisa menjadi proyek bersama, yang benar-benar dipersiapkan dengan baik.

Ada nggak, selain melakukan hubungan intim, yang bisa dilakukan pasutri untuk “menghidupkan” hubungan mereka?

Dalam sebuah kelas konseling, ada cara yang sangat sederhana. Pandang pasangan kamu dan bilang sesuatu yang baik tentang dia, puji pasangan Anda! Boleh sambil berpelukan, dan pasangannya kami suruh diam dan mendengar saja. Kami beri waktu dua menit, mereka mulai kebingungan akan memberikan pujian apa kepada pasangannya masing-masing. Dan yang mendengar juga jadi salah tingkah. Padahal jika mendapatkan pujian, kita juga pasti akan senang kan? Syaratnya adalah pujian yang nyata dan tulus. Hal-hal semacam ini, terdengar sepele namun bisa menjadi investasi luar biasa untuk sebuah pernikahan. Perlu invetasi yang kecil untuk mempertahankan sesuatu yang baik, perlu investasi yang banyak dan kerja keras yang lebih untuk menjadikan yang bagus menjadi lebih bagus – sesederhana itu.

Jadi beban nggak menjadi Marriage Pastor?

Mas Gani: Awalnya iya, sebagai pimpinan agama, kami tidak sempurna. Kalau kami mau bicara menggunakan perumpamaan, air menjadi anggur. Proses air menjadi anggur saja dilakukan diwadah semacam tempayan yang diperuntukkan untuk mencuci kaki. Maksudnya, bahwa hal yang tidak sempurna bisa digunakan untuk membuat sesuatu yang luar biasa. Anggur yang dihasilkan bahkan lebih baik dari anggur-anggur sebelumnya. Jadi kami tidak pernah mengelak kalau kami tetap masih berjuang, selama saya masih laki-laki dan isteri saya perempuan dan kami masih sama-sama berjuang untuk saling memahami. Dengan title yang kami sandang ini, tidak datang secara tiba-tiba dan tidak menjadikan kami pasangan yang luar biasa, kami tetap menjadi pasangan apa adanya, kami sama saja seperti pasangan lainya yang juga menghadapi tantangan.

Mbak Tinny: Kami tidak bisa menjadi sempurna, kami hanya berusaha menjadi apa adanya saja. Kami masih memiliki konflik, dengan begitu mungkin orang yang melihat kami akan merasa konflik dalam rumah tangga adalah sesuatu yang biasa dan harus dihadapi. Jadi pasangan-pasangan yang lain tidak merasa sendiri. Jadi jangan khawatir, ini adalah bagian proses yang harus dilalui.

Definisi pernikahan sendiri untuk kalian itu apa?

Mas Gani: Pernikahan adalah suatu perjalanan seumur hidup dengan tiket one way, berarti perjalanan ini ada di tangan kita untuk kita mau menikmati atau kita mau merana di dalamnya.

Mbak Tinny: Pernikahan itu semacam kekuatan yang kami tidak pernah bisa bayangkan sebelumnya, kalau kami hidup sendiri-sendiri, mungkin kami tidak akan pernah menjadi seperti ini. Tapi ketika  dua menjadi satu, kami bisa melakukan yang lebih dan menaklukkan sesuatu lebih dahsyat lagi. Kadang juga ada pasangan yang bersaing dengan pasangan sendiri, sebetulnya kalau bersama-sama dan  bersatu padu kita bisa melakukan semuanya dengan lebih baik.

Terima kasih Mas Gani dan Mbak Tinny atas sesi ngobrol santai yang mendatangkan ilmu baru untuk pembaca Mommies Daily 🙂